Rabu, 14 November 2012
kegiatan yang bisa dilakukan di Masjid dan Makam Sunan Ampel
Masjid dan makam Sunan Ampel membuat orang yang ingin melakukan shalat di masjid dan berziarah dapat merasa nyaman dan tenang. Suasananya sejuk dan hening terasa harmonis dengan dengungan doa dari puluhan peziarah yang duduk bersila di sekeliling makam. Acara saat haul Sunan Ampel dapat Anda kunjungi antara lain kegiatan pengajian, tahlil, khataman Al Quran, khitanan massal, arak-arakan warga Ampel dari Kampung Margi ke masjid, dan hadrah.
Masjid Ampel memiliki Lima Gapuro (Pintu Gerbang) yang merupakan simbol dari Rukun Islam. Apabila Anda masuk dari arah selatan di Jalan Sasak maka akan melewati Gapuro Munggah dan merasakan secara langsung suasana perkampungan berupa lorong pasar yang mirip dengan Pasar Seng di Masjidil Haram Makkah, seakan mengingatkan untuk naik haji jika mampu. Pasar Gubah Ampel Suci adalah kawasan pertokoan yang menyediakan segala kebutuhan, mulai busana muslim, parfum, kurma, makanan, hingga berbagai assesoris besar dan kecil mirip seperti oleh-oleh dari ibadah haji.
Puas melihat-lihat di lorong pasar ini kemudian di ujung jalannya Anda akan melihat Gapuro Poso (Puasa) yang terletak di selatan Masjid Sunan Ampel. Setelah melewati Gapura Poso, Anda akan memasuki halaman masjid dan akan tampak bangunan masjid induk yang megah dengan menaranya menjulang tinggi. Masjid Ampel ini sudah 4 kali dipugar, tetapi keaslian bangunan ini yang ditandai dengan ke-16 tiang utamanya denga panjang 17 meter tanpa sambungan, berdiameter 60 centimeter, serta 48 pintu yang tetap dipelihara dan dirawat. Hingga kini tiang penyangga ini masih kokoh, padahal umurnya sudah lebih dari 600 tahun. Menara setinggi lima puluh meter juga menjadi ciri khas masjid ini sebagai tempat agar suara azan bisa terdengar. Kubah berbentuk pendopo Jawa adalah perlambang kejayaan Majapahit yang saat itu juga berperan menyebarkan agama Islam bersama Sunan Ampel.
Di dalam masjid Anda sebagai pejiarah dapat menghabiskan waktu dengan salat, berzikir, tadarus, dan bahkan tidak sedikit yang berdoa di samping makam Sunan Ampel. Setelah selesai, perjalanan dapat dilanjutkan menjumpai Gapuro Ngamal yang artinya bershodaqoh atau berderma. Dana yang Anda berikan akan digunakan untuk pelestarian dan kebersihan kawasan masjid dan makam. Tidak jauh dari situ terdapat Gapuro Madep yang terletak di sebelah barat masjid, disana ada makam Mbah Shanhaji (Mbah Bolong).
Terakhir, Anda akan melihat Gapuro Paneksen untuk masuk ke makam yang menggambarkan pengakuan memeluk Islam dengan syahadat, "Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah". Kompleks makam dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih.
Hal lain yang dapat menjadi daya tarik adalah terdapat sumur di belakang masjid yang dibuat Sunan Ampel dan pengikutnya. Masyarakat sekitar meyakini dengan meminum air sumur akan membawa berkah tersendiri. Banyak yang meyakini air dari sumur ini memiliki kelebihan seperti air zamzam di Mekkah sehingga banyak masyarakat yang minum dan mengambil untuk kemudian dibawa pulang.
Sehari-hari Masjid Ampel hampir tak pernah sepi pengunjung dari dalam dan luar kota, bahkan luar provinsi dan luar pulau. Kegiatan yang ada, selain salat jama’ah 5 waktu secara rutin dan pengajian, juga diramaikan dengan kegiatan belajar mendalami bahasa Arab program non-gelar yang berlokasi di gedung samping timur masjid.
Anda melihat suasana kehidupan kampung arab di Masjid Ampel. Yang menarik lagi dari Masjid Ampel adalah, suasana kehidupan para pedagang di sekitarnya yang nyaris seperti suasana di Makkah. Di samping kanan kiri serta muka belakang Masjid Ampel banyak para pedagang yang berjualan makanan ala arab. Mulai dari beragam buah kormanya, nasi kebuli sampai kue roti maryam.
Dalam kondisi normal, Masjid Ampel, Surabaya, selalu ramai didatangi pengunjung. Jumlah pengunjung yang datang semakin bertambah saat memasuki bulan Ramadhan. Pesona Masjid Ampel seakan menjadi magnet kuat yang menarik hasrat umat Islam untuk mendatanginya. Keyakinan akan mendapat pahala dan barokah berlipat ganda pada periode tertentu di bulan Ramadhan, memicu luapan pengunjung pada malam tanggal ganjil di penghujung Ramadhan. Jumlah pengunjung pada periode itu bahkan bisa mencapai hingga 15 ribu orang. Untuk membantu umat yang sedang menjalankan ibadah puasa, pengurus Yayasan Masjid Ampel selalu menyiapkan ratusan bungkus makanan takjil. Dana untuk menyediakan takjil itu berasal dari sumbangan dari pengunjung yang datang ke masjid tersebut.
Masjid Ampel semakin bernilai dengan hadirnya berbagai legenda di sekitarnya. Salah satu legenda yang oleh sebagian besar orang dipandang sebagai kebenaran, adalah hadirnya sembilan makam milik salah satu santri Sunan Ampel yang bernama Mbah Sholeh. Sembilan makam itu, seluruhnya merupakan makam Mbah Sholeh. Hadirnya sembilan makam itu konon hadir karena Sunan Ampel masih memerlukan teman dalam membangun masjid. Saat Mbah Sholeh meninggal, Sunan Ampel berdoa agar Mbah Sholeh kembali diizinkan untuk membantunya, hingga sembilan kali. Menurut cerita penduduk setempat, Mbah Soleh adalah tukang sapu masjid di masa Sunan Ampel. Mbah Soleh rajin menyapu lantai masjid hingga benar-benar bersih. Saat Mbah Soleh meninggal, suasana masjid kadang terlihat kotor. Tetapi, setiap Sunan Ampel berujar "Bila Mbah Sholeh masih hidup tentulah masjid ini menjadi bersih", tiba-tiba Mbah Sholeh terlihat lagi di ruang pengimanan. Peristiwa “mati-hidup” hingga 9 kali itu terlihat dari 9 makam yang menguburkan jazad Mbah Sholeh di sekitar masjid.
Legenda lain adalah sosok Mbah Bolong, yang menurut cerita masyarakat adalah orang yang menunjukkan dengan pasti arah kiblat masjid Ampel dengan tepat ke ke Kabah di Masjidil Haram, Makkah. Caranya cukup unik, yaitu dengan melubangi (mbolongi-Bahasa Jawa) bagian mihrab masjid. Saat lubang itu dilihat yang tampak adalah Masjidil Haram, Makkah. Begitu juga tujuh sumur yang konon digali sendiri oleh Sunan Ampel. Air dari sumur itu dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan berbagai menyakit.
*Kegiatan Itikaf di Bulan Ramadhan
Iktikaf adalah kegiatan ibadah menetap di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dilakukan 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Di sinilah beberapa orang akan tampak bersila terpekur di tengah ruangan Masjid Ampel, jemari pun mereka memainkan rangkaian tasbih. Sebagian mengistirahatkan punggung dengan bersandar pada dinding bercat putih itu atau tiang kayu masjid. Jamaah lain memilih memejamkan mata sejenak dan merebahkan tubuh meski kemudian harus melawan kantuk, tetapi iktikaf selalu memberikan kenikmatan berbeda dalam Ramadan. Pukul 01.00 keheningan terpecah oleh pengeras suara masjid yang mengumumkan 30 menit lagi akan dilakukan rangkaian salat malam. Orang-oprang pun segera mengambil air wudhu, pukul 01.30, pijar lampu ruang utama masjid pun dipadamkan dan kekhusyukan makin terasa kenikmatannya. Ketika Suara takbir pertanda salat malam dimulai maka suasana kembali hening, membalut kekhusyukan jamaah ketika mendengar ayat suci Al Quran di tiap rakaat salatnya. Kegiatan ini dimulai tengah malam dan berakhir saat sahur yang biasanya berlanjut dengan ibadah salat subuh. Hari-hari mendekati akhir Ramadhan maka jamaah yang ikut semakin bertambah banyak.
Untuk melakukan ibadah itikaf di Ampel, Anda tak butuh biaya mahal. Cukup membawa uang untuk transportasi, makan dan minum selama di kawasan Masjid Ampel Surabaya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar