Rabu, 14 November 2012
tips
*Penjaga di muka gerbang masjid tak segan mengingatkan pengunjung perempuan agar mengenakan kerudung saat memasuki permakaman. Mereka juga menyiapkan kain kerudung untuk dipinjamkan kepada pengunjung, tanpa biaya.
*Pelataran makam yang ditutup konblok yang dibagi dua dengan batas pagar besi. Satu untuk peziarah laki-laki dan satu lagi untuk perempuan.
*Masyarakat yang berkunjung ke Masjid Ampel dan berziarah ke makam Sunan Ampel biasanya setiap Kamis malam Jumat Legi.
transportasi
Kota Surabaya merupakan kota besar yang menyediakan penerbangan langsung dari berbagai kota seperti Jakarta, Bali, Banjarmasin, Yogyakaerta, Manado, Lombok, Singapura dan Kuala Lumpur. Anda pun dapat menggunakan kerata api dari kota-kota besar di Pulau Jawa langsung ke Stasiun Kereta Api Surabaya Gubeng. Bus juga tersedia ke terminal Purabaya.
Masjid Ampel terletak di jantung kampung Arab. Tepat di sebelah utara Jalan Nyamplungan dan tepat di belokan kiri kedua Jalan Sasak. Keramaian tukang becak yang setia mengantar para peziarah akan mudah dijumpai di sepanjang jalan menuju masjid. Untuk menuju ke sini Anda dapat menggunakan taxi, kendaraan umum, atau sewaan.
Setibanya di kawasan Ampel maka Anda akan temukan jalan kecil di Kampung Arab sebagai jalur masuk ke Masjid Sunan Ampel. Dari Jalan Nyamplungan yang merupakan jalan raya, perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki menelusuri gang kecil, Jalan Ampel Kembang. Lebarnya tak lebih dari 3 meter dan membelah permukiman padat penduduk. Jalan ini berujung di Jalan Ampel Suci, sebuah lorong beratap seperti pasar yang menjual berbagai keperluan ibadah dan asesorisnya.
berbelanja
Memasuki gapura Jalan Ampel Suci masuk ke areal masjid, Anda akan disambut dengan para pedagang kaki lima di kedua sisi jalan tertutup yang menjajakan beraneka barang seperti parfum, sarung, peci, baju-baju gamis, tasbih, kopiah, sampai aksesori, parfum, bahkan air zamzam dari Arab, serta berbagai perlengkapan ibadah umat muslim lainnya. Ada juga berbagai makanan khas Ampel seperti kue ebi hingga gulai arab.
kuliner
Nuansa serba Islami sangat kental di kompleks Masjid Ampel. Dari pintu gerbang terluar hingga kawasan sekeliling masjid terdapat pedagang yang menjajakan berbagai makanan ala Arab seperti kurma, nasi kebuli, hingga kue maryam. Anda akan mudah menjumpai makanan seperti kebab, roti cane, gulai kambing, nasi goreng kambing, roti maryam, nasi briani sampai martabak khas Timur Tengah. Cita rasa makanan kaya dengan bumbu rempah-rempah dan sedikit pedas. Jangan ragu-ragu, cicipilah karena beragam makanan ini nikmat rasanya.
Menjelang malam, Anda dapat menemukan aneka jenis makanan yang dijual di tenda kaki lima bersliweran di sepanjang jalan sekitar Masjid Ampel. Ada kebab syawarma, pizza, terang bulan (martabak manis), martabak daging, cenil, nasi bebek, soto madura. Apabila masih kurang memuaskan Anda cicipi saja sate ayam, sate kambing, kambing ov
en, bakso, mie ayam, tahu tek, gule kambing, soto ayam, rujak cingur, roti bakar, aneka jenis seafood, ayam goreng dan bakar, cakwe, es kacang ijo, hingga kikil kambing.
Apabila Anda tidak sempat pergi malam maka datang saja pagi harinya, siang, atau sore. Karena masih ada nasi pecel, aneka kue basah, lontong balap, semanggi, soto, rawon, nasi madura, nasi krawu, toko roti yang rasanya enak, sambosa, dan masih banyak lagi kudapan nikmat lainnya.
akomodasi
Untuk Anda yang ingin itikaf selama 10 hari terakhir Ramadhan pengurus mengizinkan untuk tidur di dalam masjid untuk tujuan beribadah bersama. Akan tetapi, apabila Anda ingin menginap di luar kawasan maka beberapa hotel yang dapat dijadikan referensi adalah berikut ini.
• Grand Kalimas
Jl KH Mas Mansyur 151-153
Phone (62-31) 3541616,
3551047
• Mansyur
KH. Mas Mansyur 208
Telp. (031) 3551427
• Mesir
KH. Mas Mansyur 165,
Telp. (031) 3531356-7
• Kaha
KH. Mas Mansyur 121
Telp. (031) 3521703
kegiatan yang bisa dilakukan di Masjid dan Makam Sunan Ampel
Masjid dan makam Sunan Ampel membuat orang yang ingin melakukan shalat di masjid dan berziarah dapat merasa nyaman dan tenang. Suasananya sejuk dan hening terasa harmonis dengan dengungan doa dari puluhan peziarah yang duduk bersila di sekeliling makam. Acara saat haul Sunan Ampel dapat Anda kunjungi antara lain kegiatan pengajian, tahlil, khataman Al Quran, khitanan massal, arak-arakan warga Ampel dari Kampung Margi ke masjid, dan hadrah.
Masjid Ampel memiliki Lima Gapuro (Pintu Gerbang) yang merupakan simbol dari Rukun Islam. Apabila Anda masuk dari arah selatan di Jalan Sasak maka akan melewati Gapuro Munggah dan merasakan secara langsung suasana perkampungan berupa lorong pasar yang mirip dengan Pasar Seng di Masjidil Haram Makkah, seakan mengingatkan untuk naik haji jika mampu. Pasar Gubah Ampel Suci adalah kawasan pertokoan yang menyediakan segala kebutuhan, mulai busana muslim, parfum, kurma, makanan, hingga berbagai assesoris besar dan kecil mirip seperti oleh-oleh dari ibadah haji.
Puas melihat-lihat di lorong pasar ini kemudian di ujung jalannya Anda akan melihat Gapuro Poso (Puasa) yang terletak di selatan Masjid Sunan Ampel. Setelah melewati Gapura Poso, Anda akan memasuki halaman masjid dan akan tampak bangunan masjid induk yang megah dengan menaranya menjulang tinggi. Masjid Ampel ini sudah 4 kali dipugar, tetapi keaslian bangunan ini yang ditandai dengan ke-16 tiang utamanya denga panjang 17 meter tanpa sambungan, berdiameter 60 centimeter, serta 48 pintu yang tetap dipelihara dan dirawat. Hingga kini tiang penyangga ini masih kokoh, padahal umurnya sudah lebih dari 600 tahun. Menara setinggi lima puluh meter juga menjadi ciri khas masjid ini sebagai tempat agar suara azan bisa terdengar. Kubah berbentuk pendopo Jawa adalah perlambang kejayaan Majapahit yang saat itu juga berperan menyebarkan agama Islam bersama Sunan Ampel.
Di dalam masjid Anda sebagai pejiarah dapat menghabiskan waktu dengan salat, berzikir, tadarus, dan bahkan tidak sedikit yang berdoa di samping makam Sunan Ampel. Setelah selesai, perjalanan dapat dilanjutkan menjumpai Gapuro Ngamal yang artinya bershodaqoh atau berderma. Dana yang Anda berikan akan digunakan untuk pelestarian dan kebersihan kawasan masjid dan makam. Tidak jauh dari situ terdapat Gapuro Madep yang terletak di sebelah barat masjid, disana ada makam Mbah Shanhaji (Mbah Bolong).
Terakhir, Anda akan melihat Gapuro Paneksen untuk masuk ke makam yang menggambarkan pengakuan memeluk Islam dengan syahadat, "Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah". Kompleks makam dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih.
Hal lain yang dapat menjadi daya tarik adalah terdapat sumur di belakang masjid yang dibuat Sunan Ampel dan pengikutnya. Masyarakat sekitar meyakini dengan meminum air sumur akan membawa berkah tersendiri. Banyak yang meyakini air dari sumur ini memiliki kelebihan seperti air zamzam di Mekkah sehingga banyak masyarakat yang minum dan mengambil untuk kemudian dibawa pulang.
Sehari-hari Masjid Ampel hampir tak pernah sepi pengunjung dari dalam dan luar kota, bahkan luar provinsi dan luar pulau. Kegiatan yang ada, selain salat jama’ah 5 waktu secara rutin dan pengajian, juga diramaikan dengan kegiatan belajar mendalami bahasa Arab program non-gelar yang berlokasi di gedung samping timur masjid.
Anda melihat suasana kehidupan kampung arab di Masjid Ampel. Yang menarik lagi dari Masjid Ampel adalah, suasana kehidupan para pedagang di sekitarnya yang nyaris seperti suasana di Makkah. Di samping kanan kiri serta muka belakang Masjid Ampel banyak para pedagang yang berjualan makanan ala arab. Mulai dari beragam buah kormanya, nasi kebuli sampai kue roti maryam.
Dalam kondisi normal, Masjid Ampel, Surabaya, selalu ramai didatangi pengunjung. Jumlah pengunjung yang datang semakin bertambah saat memasuki bulan Ramadhan. Pesona Masjid Ampel seakan menjadi magnet kuat yang menarik hasrat umat Islam untuk mendatanginya. Keyakinan akan mendapat pahala dan barokah berlipat ganda pada periode tertentu di bulan Ramadhan, memicu luapan pengunjung pada malam tanggal ganjil di penghujung Ramadhan. Jumlah pengunjung pada periode itu bahkan bisa mencapai hingga 15 ribu orang. Untuk membantu umat yang sedang menjalankan ibadah puasa, pengurus Yayasan Masjid Ampel selalu menyiapkan ratusan bungkus makanan takjil. Dana untuk menyediakan takjil itu berasal dari sumbangan dari pengunjung yang datang ke masjid tersebut.
Masjid Ampel semakin bernilai dengan hadirnya berbagai legenda di sekitarnya. Salah satu legenda yang oleh sebagian besar orang dipandang sebagai kebenaran, adalah hadirnya sembilan makam milik salah satu santri Sunan Ampel yang bernama Mbah Sholeh. Sembilan makam itu, seluruhnya merupakan makam Mbah Sholeh. Hadirnya sembilan makam itu konon hadir karena Sunan Ampel masih memerlukan teman dalam membangun masjid. Saat Mbah Sholeh meninggal, Sunan Ampel berdoa agar Mbah Sholeh kembali diizinkan untuk membantunya, hingga sembilan kali. Menurut cerita penduduk setempat, Mbah Soleh adalah tukang sapu masjid di masa Sunan Ampel. Mbah Soleh rajin menyapu lantai masjid hingga benar-benar bersih. Saat Mbah Soleh meninggal, suasana masjid kadang terlihat kotor. Tetapi, setiap Sunan Ampel berujar "Bila Mbah Sholeh masih hidup tentulah masjid ini menjadi bersih", tiba-tiba Mbah Sholeh terlihat lagi di ruang pengimanan. Peristiwa “mati-hidup” hingga 9 kali itu terlihat dari 9 makam yang menguburkan jazad Mbah Sholeh di sekitar masjid.
Legenda lain adalah sosok Mbah Bolong, yang menurut cerita masyarakat adalah orang yang menunjukkan dengan pasti arah kiblat masjid Ampel dengan tepat ke ke Kabah di Masjidil Haram, Makkah. Caranya cukup unik, yaitu dengan melubangi (mbolongi-Bahasa Jawa) bagian mihrab masjid. Saat lubang itu dilihat yang tampak adalah Masjidil Haram, Makkah. Begitu juga tujuh sumur yang konon digali sendiri oleh Sunan Ampel. Air dari sumur itu dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan berbagai menyakit.
*Kegiatan Itikaf di Bulan Ramadhan
Iktikaf adalah kegiatan ibadah menetap di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dilakukan 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Di sinilah beberapa orang akan tampak bersila terpekur di tengah ruangan Masjid Ampel, jemari pun mereka memainkan rangkaian tasbih. Sebagian mengistirahatkan punggung dengan bersandar pada dinding bercat putih itu atau tiang kayu masjid. Jamaah lain memilih memejamkan mata sejenak dan merebahkan tubuh meski kemudian harus melawan kantuk, tetapi iktikaf selalu memberikan kenikmatan berbeda dalam Ramadan. Pukul 01.00 keheningan terpecah oleh pengeras suara masjid yang mengumumkan 30 menit lagi akan dilakukan rangkaian salat malam. Orang-oprang pun segera mengambil air wudhu, pukul 01.30, pijar lampu ruang utama masjid pun dipadamkan dan kekhusyukan makin terasa kenikmatannya. Ketika Suara takbir pertanda salat malam dimulai maka suasana kembali hening, membalut kekhusyukan jamaah ketika mendengar ayat suci Al Quran di tiap rakaat salatnya. Kegiatan ini dimulai tengah malam dan berakhir saat sahur yang biasanya berlanjut dengan ibadah salat subuh. Hari-hari mendekati akhir Ramadhan maka jamaah yang ikut semakin bertambah banyak.
Untuk melakukan ibadah itikaf di Ampel, Anda tak butuh biaya mahal. Cukup membawa uang untuk transportasi, makan dan minum selama di kawasan Masjid Ampel Surabaya.
Jumat, 09 November 2012
masjid agung sunan ampel
Siapa yang tidak kenal dengan Raden Achmad Rachmatulloh atau lebih dikenal sebagai Sunan Ampel, beliau adalah seorang publik figur yang alim dan bijak serta berwibawa dan semakin banyak mendapatkan simpati dari masyarakat diusianya yang masih belia 20 tahun. Dan pada saat kedatangan beliau ke tanah jawa, beliau diberi kepercayaan oleh Raja Majapahit tempat untuk berdakwah dan sebagai tempat tinggalnya yang baru yaitu Ampel Dento (Surabaya).
Masjid merupakan salah satu media dakwah beliau. Dan akhirnya Raden Achmad beserta para pengikutnya membangun sebuah masjid di tahun 1421 M. Masjid tersebut di bangun dengan gaya arsitektur jawa kuno dan nuansa arab islami yang sangat lekat dan dinamai dengan Masjid Ampel. Pada akhirnya di tahun 1481 beliau wafat dan di makamkan disebelah kanan depan masjid Ampel.
Perlu di ketahui bahwa Masjid Ampel merupakan masjid terbesar kedua di Surabaya. Di masjid ini Anda bisa melihat bangunan lima Gapuro (Pintu Gerbang) yang merupakan simbol dari Rukun Islam.
Dari arah selatan tepatnya di jalan Sasak terdapat Gapuro bernama Gapuro Munggah, dimana Anda akan menikmati suasana perkampungan yang mirip dengan pasar Seng di Masjidil Haram Makkah. Menggambarkan bahwa seorang muslim wajib naik haji jika mampu.
Masjid Sunan Ampel Surabaya (didalam)
Setelah melewati lorong perkampungan yang menjadi kawasan pertokoan yang menyediakan segala kebutuhan mulai busana muslim, parfum, kurma dan berbagai assesoris orang yang sudah pernah melakukan ibadah haji lengkap tersedia di pasar Gubah (Ampel Suci). Kemudian Anda akan melihat sebuah Gapuro Poso (Puasa) yang terletak di selatan Masjid Sunan Ampel. Kawasan Gapuro Poso ini memberikan suasana pada bulan puasa Ramadhan. Menggambarkan bahwa seorang muslim wajib berpuasa.
Setelah melewati Gapuro Poso, Anda memasuki halaman Masjid. Dari halam ini akan tampak bangun Masjid Induk yang megah dengan menaranya yang menjulang tinggi yang dibangun oleh Sunan Ampel. Yang sampai sekarang masih tetap utuh baik menara maupun tiang penyangganya.
Bagi orang-orang yang ingin bershodaqoh, disediakan tempat yang berada di Gapuro Ngamal. Yang mana dari shodaqoh tersebut digunakan untuk pelestarian dan kebersihan kawasan Masjid dan Makam. Menggambarkan Rukun Islam tentang wajib zakat.
Kemudian tak jauh setelah itu Anda akan melewati Gapuro Madep letaknya persis di sebelah barat Masjid Induk. Disebelah kanan terdapat makam Mbah Shanhaji yang menentukan arah kiblat Masjid Agung Sunan Ampel. Menggambarkan sebagai pelaksanaan sholat menghadap kiblat.
Dan setelah itu Anda akan melihat Gapuro Paneksen untuk masuk ke makam. Ini menggambarkan sebagai syahadat “Bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah”.
Setelah melalui ke lima Gapuro (gerbang) tersebut maka dari dapat diambil kesimpulan bahwa Gapuro tersebut menggambarkan Rukun Islam yang jumlahnya lima.
- Syahadat (Gapuro Peneksen) bersaksi tiada Tuhan selain Allah.
- Sholat (Gapuro Madep) melaksanakan sholat menghadap kiblat.
- Zakat (Gapuro Ngamal) menunaikan Zakat/ Shodaqoh bagi yang mampu.
- Puasa (Gapuro Poso) suasana puasa sperti di bulan suci Ramadhan.
- Haji (Gapuro Munggah) melihat nama dan bahasanya serta suasana di Gapuro Munggah. Munggah Haji (Naik Haji).
Masjid Agung Sunan Ampel ini terletak di jalan KH. Mas Mansyur Surabaya Utara, yang sejak kini masih ramai dikunjungi baik masyarakat Surabaya sendiri atau masyarakat luar Surabaya, kebanyakan mereka bertujuan untuk berziarah ke makam Sunan Ampel, tak jarang pula banyak dari mereka yang hanya ingin menghabiskan waktunya di pasar Ampel yang terkenal akan barang-barang dan makanan khas Timur Tengah.
Masjid Agung Sunan Ampel
Jl. KH. Mas Mansyur Surabaya Utara.
sejarah dakwah
Syekh Jumadil Qubro, dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim (Makdum Ibrahim/Haji Bong Tak Keng) dan Maulana Ishak bersama sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan, dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.
Di Kerajaan Champa, Maulana Malik Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Champa, yang akhirnya mengubah Kerajaan Champa menjadi Kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri raja Champa (adik Dwarawati), dan lahirlah Raden Rahmat. Di kemudian hari Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa tanpa diikuti keluarganya.
Sunan Ampel datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban yang bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu: Putri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan Syarifah, yang merupakan istri dari Sunan Kudus.
Pada tahun 1479, Sunan Ampel mendirikan Mesjid Agung Demak.
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
mengenal sedikit tentang sosok sunan ampel
Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Raden Rahmat, dan diperkirakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel adalah Makhdum Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu
- menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di
pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah
ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian
menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).[1][2]
Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.
Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.
Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunnan yang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Asia Tengah (Samarkand). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati puteri raja Champa yang menjadi permaisuri raja Brawijaya. Raja Champa saat itu merupakan seorang muallaf. Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh akhirnya tidak kembali ke negerinya karena Kerajaan Champa dihancurkan oleh Kerajaan Veit Nam.
Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Beliau datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil istri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII) . Dipati Hangrok (alias Girindrawardhana alias Brawijaya VI) telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai. Sebagai kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan istri Raja Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai. Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading. Anak laki-laki dari Putri Pasai dengan raja Majapahit tersebut kemudian dinikahkan dengan puteri raja Bali. Putra dari Putri Pasai tersebut wafat ketika istrinya Putri dari raja Bali mengandung tiga bulan. Karena dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut, maka ketika lahir bayi ini (cucu Putri Pasai dan Brawijaya VI) dihanyutkan ke laut, tetapi kemudian dapat dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri. Kelak ketika terjadi huru-hara di ibukota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristrikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai istri oleh Sunan Kudus (tepatnya Sunan Kudus senior/Undung/Ngudung), sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.
Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.
Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.
Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunnan yang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Asia Tengah (Samarkand). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati puteri raja Champa yang menjadi permaisuri raja Brawijaya. Raja Champa saat itu merupakan seorang muallaf. Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh akhirnya tidak kembali ke negerinya karena Kerajaan Champa dihancurkan oleh Kerajaan Veit Nam.
Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Beliau datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil istri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII) . Dipati Hangrok (alias Girindrawardhana alias Brawijaya VI) telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai. Sebagai kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan istri Raja Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai. Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading. Anak laki-laki dari Putri Pasai dengan raja Majapahit tersebut kemudian dinikahkan dengan puteri raja Bali. Putra dari Putri Pasai tersebut wafat ketika istrinya Putri dari raja Bali mengandung tiga bulan. Karena dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut, maka ketika lahir bayi ini (cucu Putri Pasai dan Brawijaya VI) dihanyutkan ke laut, tetapi kemudian dapat dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri. Kelak ketika terjadi huru-hara di ibukota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristrikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai istri oleh Sunan Kudus (tepatnya Sunan Kudus senior/Undung/Ngudung), sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.
Langganan:
Komentar (Atom)















